Berita

DSAI sebagai PM dikagumi aktivis, tokoh media Indonesia

Ketika Datuk Seri Anwar Ibrahim (DSAI) dilantik sebagai Perdana Menteri dan mengangkat sumpah di Istana Negara, Malaysia, bukan hanya rakyat Malaysia yang bersemangat, tetapi juga rakyat Indonesia.

Beberapa tokoh terkemuka di Indonesia menyambut baik pelantikan DSAI, dengan menyebutnya sebagai “pelantikan seorang sahabat.” Oleh karena itu, tidak menghairankan bahawa kunjungan rasmi pertama DSAI sebagai Perdana Menteri adalah ke Indonesia.

Pada hari Isnin (9 Januari 2023), YAB Perdana Menteri telah disambut oleh Presiden Joko Widodo dengan upacara khas di Istana Bogor. Pada malam yang sama, setelah acara kenegaraan, ratusan tokoh terkemuka Indonesia dari latar belakang politik yang berbeza berkumpul di Menara Bank Mega, Jakarta bagi meraikan lawatan rasmi DS Anwar Ibrahim ke Indonesia. Acara tersebut diselenggarakan oleh seorang pengusaha terkemuka Indonesia, Chairul Tanjung.

DSAI menjadi pembicara tunggal di dalam acara tersebut. Beberapa aktivis demokrasi terkemuka, aktivis anti-rasuah, aktivis hak asasi manusia, dan wartawan hadir untuk mendengar pidato DSAI. Suasana di ruangan tersebut terasa seperti perjumpaan semula. DSAI menjadi magnet yang menarik perhatian semua orang dengan pidatonya yang mengagumkan dalam bahasa Indonesia yang fasih. Tepukan bergema dengan setiap patah perkataan yang diucapkan.
Penulis artikel Antara Kantor Berita Indonesia, Asrol Kamal Roka, yang turut hadir pada acara tersebut dan telah berkongsi beberapa sorotan yang menarik, termasuk tentang masalah ekonomi.

DSAI optimistik dapat menyelesaikan masalah ekonomi yang tidak stabil yang disebabkan oleh COVID-19 dan ancaman kemelesetan. “Saya tidak mewakili pandangan pesimis dalam politik atau ekonomi. Saya tidak pernah mengambil pendekatan pesimis, sebab itu saya bertahan,” kata DSAI.

“Saya amat optimistik, insya-Allah.” Sebagai seorang pemimpin, DSAI menekankan pentingnya kesederhanaan dan tidak menggunakan kekuasaan untuk memperkayakan diri sendiri dan orang-orang terdekatnya. “Seorang pemimpin harus tetap menjunjung prinsip nilai dan akhlak yang mulia,” tegasnya.